Situs Informasi Tentang Dunia Malam dan Hiburan Malam ⚤

Kategori PSK dan Perbedaan Dengan Wanita Penghibur

Table of Content

Pengamat isu perempuan dan keadilan jender yang juga menjadi Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia, Sulistyowati Irianto, mengatakan kasus bisnis OPEN BO atau jual beli Pekerja Seks Komersial (PSK) papan atas di Indonesia bukan fenomena baru. Menurut Sulistyowati, sejauh ini terdapat tiga kategori PSK di mayoritas negara Asia, termasuk di Indonesia.

“Mengacu pada sebuah penelitian yang dilakukan Professor Louise Brown dari Inggris tentang perdagangan perempuan dan pelacuran di banyak negara Asia, ada tiga kategori PSK, yang tidak bisa disamaratakan,” kata Sulistyowati.

Louise Brown merupakan seorang dosen Studi Asia di University of Birmingham, Inggris, yang menulis buku berjudul Perbudakan Seks di Asia. Menurut Louise, kata Sulistyowati, tiga kategori besar dibuat untuk memisahkan jenis pelacuran.

Kategori Pertama

Yang pertama adalah kelompok perempuan cantik yang memilih profesi menjajakan diri atau menjadi pekerja seks dengan bayaran yang sangat tinggi atau yang biasa disebut dengan OPEN BO. PSK kelas atas dari kelompok pertama ini, memiliki wajah yang sangat cantik, berpendidikan dan biasanya fasih berbahasa Inggris. Mereka bekerja dengan berkeliling dari kota demi kota di Asia dan mendapatkan bayaran hingga ratusan juta rupiah.

Louise menjabarkan hal tersebut dalam bukunya, "di bagian utama pasar (pelacuran) benua Asia adalah prostitusi kelas atas yang disebut perempuan panggilan, yang sering bekerja atau melakukan praktiknya di hotel atau apartemen mewah dan memberikan layanan kepada lelaki hidung belang yang kaya raya. "

Perempuan penjaja seks komersil yang berasal dari kelompok ini jumlahnya paling sedikit dan paling langka di piramida bisnis seks di Asia. Perempuan PSK dari kelas ini memilih melakukan prostitusi karena mereka bisa meraih uang banyak dalam waktu singkat melalui seks. Mereka biasanya berasal dari keluarga kelas menengah dan tidak menjual seks karena miskin dan tak punya pekerjaan lain melainkan faktor kenikmatan.

Kategori Kedua

kelompok yang kedua adalah grup PSK yang menjajakan diri mereka ditemani dengan mucikari dan biasanya ditemukan di tempat lokalisasi atau tempat prostitusi dengan sebutan kerenya yaitu swill house

“Salah satunya yang ditemukan Pemda DKI di Kalibata Mall. Itu termasuk ke dalam jenis PSK kedua ini,” kata Sulistyowati mengacu kepada penelitian Brown.

Kelompok kedua tersebut, katanya, memiliki struktur, jaringan serta mucikari yang menjaga serta memasarkan pelacur atau pekerja seks komersil yang bersangkutan. Jumlah PSK di kelompok kedua ini jauh lebih banyak dari kelompok di level atas. Tentunya dengan jaringan yang luas dan mempunyai struktur internal yang kuat, kategori kedua ini memang diperuntukan untuk mencari pasar yang sangat luas, sehingga dengan adanya banyaknya PSK yang terkumpul akan menaklukan pasar yang luas dan bersifat per-area atau region.

Untuk Kategori kedua ini sering ditemukan di daerah perkotaan atau kota metropolitan seperti jakarta. Sibuknya kota jakarta membuat para pekerja yang ingin melepaskan stress bisa menggunakan jasa pekerja seks komersil ini, tentunya harganya variatif dan biasanya tergantung sang mucikari yang menentukan standarisasi tempat untuk “bermain”. Tentunya dengan adanya PSK di kota-kota besar ini sangatlah membantu jaringan ini terbentuk menjadi lebih kokoh dan kompleks, sehingga jaringan PSK ini bisa mengambil pasar lebih banyak.

Kategori Ketiga

Seterusnya, ada kelompok pelacuran yang sungguh-sungguh menjajakan diri karena terdesak kebutuhan ekonomi atau untuk menyambung hidup. Mengaca pada kasus di Indonesia, PSK dari kalangan ketiga ini bisa ditemukan di wilayah makam-makam atau warung kaki lima dengan mendapatkan bayaran mulai dari Rp 5 ribu hingga puluhan ribu rupiah sekali melayani. Tentunya dengan harga variatif dan mempunyai harga yang dibilang rendah. Kategori ini sangatlah banyak yang menjadi PSK.

“Jumlah mereka yang paling banyak diantara semua golongan,” kata dia menjelaskan

Tentunya dengan harga yang cukup rendah, pasar yang ditargetkan adalah orang yang berekonomi menengah kebawah, tentunya dengan harga sekian rupiah, orang-orang ini sudah dapat layanan dari para pekerja seks komersil ini. Untuk perbedaan dengan kategori kedua, pada kategori ketiga ini tidak mempunyai jaringan serta struktur internal yang kuat dan luas. Sehingga mayoritas PSK kategori ketiga ini hanyalah bergantung dengan client sesaat yang biasanya terdiri dari buruh pabrik, supir angkutan umum, serta orang-orang yang biasanya berprofesi sebagai pedagang kaki lima.

Sebelumnya, Kepolisian Resor Jakarta Selatan berhasil menangkap seorang mucikari yang biasa menyalurkan pekerja seks komersial (PSK) papan atas di Indonesia. Menurut keterangan Kepala Polres Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Wahyu Hadiningrat, RA ditangkap setelah pihak kepolisian berhasil mengelabuinya dengan berpura-pura menjadi pembeli dalam bisnis jual-beli wanita yang dia lakukan.

“Modusnya menawarkan seseorang, kemudian ketika kita mau memesan harus memberikan uang muka sebesar 30 persen dari nilai keseluruhan transaksi. Pada hari yang telah ditetapkan, pembayaran harus dilunasi sebelum masuk kamar,” ujar Wahyu di Kantor Polres Metro Jakarta Selatan.

Menurut penjelasan Wahyu, sang tersangka biasa memasarkan PSK dengan harga yang cukup tinggi yaitu berkisar antara Rp 80 juta hingga Rp 200 juta untuk durasi tiga jam. Karena tarif PSK yang ditawarkan sangat tinggi, maka pembeli yang dilayani RA umumnya bukan merupakan kalangan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah di ibu kota.

RA diketahui melayani penjualan lebih dari 200 PSK papan atas selama ini. Namun Wahyu tidak dapat menyebutkan latar belakang profesi para PSK yang menjadi objek jual RA.

“Dari pemeriksaan kami, terdapat 200 perempuan (yang biasa dijual oleh RA). Latar belakang saksi kami tidak dapat sebutkan demi kepentingan penyidikan,” ujar Wahyu

Ayam Kampus

Setidaknya ada beberapa perbedaan mendasar dari PSK pada umumnya. Tak lain adalah soal modus operandinya. “PSK umum, sebagian besar terang-terangan menjalankan pekerjaannya. Salah satunya dengan mangkal di sejumlah lokalisasi atau prostitusi. Ayam kampus, jelas terselubung,” katanya.

Ayam kampus kebanyakan memilih jalur independen yang bernaung lewat mucikari khusus atau biasa disebut agensi atau broker. Untuk pemesanan, calon konsumen mesti lebih dulu mengontak “Mami”-nya. Kemudian bisa order, booking, janji temu, dan seterusnya. Hal ini untuk menjaga kerahasiaan selama operasi berjalan. Di luar itu, ada juga yang bergabung di sejumlah kafe tertentu dengan konsep window shopping. Jadi, sebelum “membeli”, lelaki hidung belang bisa lebih dulu memilih-milih layaknya melihat barang di etalase toko. Wadah lain yang tak kalah subur buat operasi ayam kampus adalah tempat hiburan karaoke dan tempat spa. Mereka berkedok sebagai pemandu karaoke atau biasa disebut Lady Companion (LC) serta terapis kesehatan

Fenomena ayam kampus sempat ramai dibicarakan setelah mahasiswi bernama Maharani Suciyono ikut tertangkap dalam penangkapan Ahmad Fathanah oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Hotel Le Meridien. Akibat dari peristiwa tersebut, harga pasaran dari ayam kampus menjadi rusak.

Fenomena ayam kampus ini sangatlah menjadi trend yang sangat aneh. Dikarenakan setelah terjadi penangkapan tersebut banyaknya mahasiswi universitas melakukan praktik ini, walaupun mereka masih berstatus mahasiswi tetapi tetap saja praktik seks ini sangatlah laku, mendekati para PSK kategori kedua. Struktur dan jaringan yang kuat dan sangat luas salah satu faktor utama dari praktik seks yang dilakukan oleh mahasiswi ini laris di pasarnya.

Para ayam kampus ini rela menjajakan cinta demi memenuhi kebutuhan kuliah, kebutuhan sehari-harinya, bahkan gaya hidup. “Ayam kampus” menggunakan berbagai aplikasi media sosial atau tawaran dari mulut-mulut untuk mencari pelanggan.

Dalam mencari pelanggan, mereka kini tak sembarangan, lebih memilih-memilih pelanggan yang akan menggunakan jasa kepuasan nafsu itu. Hal itu karena beberapa kasus prostitusi online yang mencuat ke publik, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan “ayam kampus”.

Kesan eksklusif yang ditawarkan oleh penjaja cinta “ayam kampus”, membuat mereka enggan sembarangan memilih tempat untuk berkencan. Jika ada konsumen yang tertarik menggunakan jasa si “ayam kampus”, paling tidak menginginkan ngamar di hotel berbintang tiga.

Dalam setiap kali kencan, ia mematok tarif minimal Rp 1 juta untuk layanan short time dan paling besar Rp 5 juta untuk long time.

Dengan harga seperti ini biasanya pasar yang dituju adalah para pria hidung belang yang mempunyai kekayaan diatas rata-rata.

Lebih Suka Ayam Kampus

Boy, salah seorang pegawai swasta mengaku suka menggunakan jasa “ayam kampus” dikarenakan lebih profesional, ramah, dan berkelas dari PSK lainnya. Ia mengungkapkan, penilaiannya terhadap layanan “ayam kampus” bukan hanya soal bersetubuh.

Melainkan, juga soal attitude dan sensasi yang didapatkan dari si “ayam kampus”.

Dengan pelayanan berbeda diberikan “ayam kampus”, ia pun harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan kesempatan kencan dengan “ayam kampus”.

Namun begitu, hal tersebut bukanlah jadi soal. Baginya kepuasan dan layanan adalah yang paling utama.

“Ayam kampus itu lebih eksklusif dan berkelas, karena tidak sembarangan orang bisa pakai jasanya. Walau harus bayar Rp 2 juta tidak masalah yang penting lebih berkelas
dan pelayanan memuaskan,” katanya mengakui.

Lain lagi dengan Jo, ia lebih memilih menjadikan “ayam kampus” sebagai teman bersenang-senang.

Setelah satu-dua kali menggunakan jasanya, pria berambut ikal ini akan melanjutkan hubungannya ke jenjang lebih dekat. Jika hubungan keduanya semakin akrab, ia mengaku selanjutnya tak perlu lagi mengeluarkan biaya cukup mahal. Cukup membuka kamar di hotel dan diajak jalan pegawai swasta ini dengan leluasa menggunakan jasa si “ayam kampus”.

“Awal-awalnya bayar Rp 1 juta, setelah itu kita akrab-in. Selanjutnya tinggal suka sama suka aja,” katanya.

Jadi seperti itulah beberapa perbedaan yang sering kita dengar di dunia malam, mulai dari pekerja seks komersil hingga wanita penghibur versi para mahasiswi yang menjaja pekerjaan seks ini. Tidak sedikit orang yang lebih memilih mahasiswi ketimbang pekerja seks komersil di kategori dua atau tiga. Ayam kampus lebih terkenal dengan praktik seks yang lebih eksklusif ketimbang para pekerja seks komersil menjadi salah satu faktor banyaknya orang yang memilih ayam kampus ini, Akan tetapi jika dibandingkan dengan harga-harga ayam kampus, PSK unggul dalam hal ini dikarenakan harganya masih bersahabat dan relatif lebih mudah untuk mencari para PSK ini. Jadi gimana anda sudah mengetahui kan perbedaan PSK dan Wanita Penghibur yang satu ini?

Artikel Terkait: